Drs.Saenal: Ingin Perubahan Bukan Kekuasaan

Posted: 19 Juli 2012 in Tak Berkategori

Muhammad Sainal, bungsu dari lima bersaudara, lahir di Enrekang, pada 15 Juni 1966, anak dari pasangan Ladumang (alm) dengan Hj P Rabbi. Sejak kanak-kanak sampai dewasa tak pernah terpikir, apalagi bercita-cita jadi bupati atau penguasa di daerahnya.

Sainal sadar kalau dia hanyalah anak seorang petani miskin. Apalagi sejak umur 7 tahun sudah tidak bersama dengan keluarga tapi dipelihara oleh orang lain. Orang tuanya mengirim Sainal kepada kenalannya yang tinggal di Pinrang untuk disekolahkan. Sejak kecil alumnus Unhas ini hanya bercita-cita menjadi guru, atau peneliti.

Namun tidak berlanjut setelah melihat banyak tenaga peneliti yang tak menjalankan profesinya secara baik, karena berorientasi pragmatis belaka. Inilah yang menggugahnya kembali ke kampung untuk menciptakan institusi bisnis yang mandiri yang bisa memberdayakan masyarakat. Di Kariango, Sainal tidak sampai tamat SD, lantas pindah ke Parepare. Belakangan dia kembali bersama orangtuanya di Malino dan bersekolah di SMP Maroanging. Jarak sekolah dengan rumah kurang lebih 7 km, dan itu ditempuh dengan berjalan kaki. Nanti setelah kelas II, baru naik sepeda, dan saat kelas III sudah ada angkot yang bisa Drs. H. Muhammad Sainal, MA Ingin Lakukan Perubahan, Bukan Mencari Kekuasaan ditumpangi ke sekolah.

Menariknya pula, setiap pulang sekolah, dia hanya berganti pakaian sekolah dan langsung ke kebun serta mengembala ternak. Kebiasaan membantu orangtua ini dijalani sampai tamat SMP. Setelah itu, dia melanjutkan pendidikan di SMA Pinrang, dan tinggal menumpang pada seorang kenalan bapaknya. Lulus pada 1986, lalu kuliah di Fisipol Unhas. Dia memilih jurusan Antropologi Budaya, dengan alasan, saat itu sepi peminat sehingga peluang untuk diterima lebih besar.

Kendati demikian, Sainal tetap tekun mempelajari ilmu yang dipilihnya. Bahkan setelah tamat, atas biaya Ford Fondation dia ikut program diploma non gelar di Universitas Indonesia (UI). Sainal bangga karena saat itu, hanya dirinya dari Sulsel yang berkesempatan dilatih selama 6 bulan di UI tentang Kesehatan Sosial. Dan dari 8 orang yang mengikuti program diploma non gelar di UI, hanya 4 orang yang diikutkan Program S2 di almamater yang sama. Lulus program S2, Sainal pun diterima menjadi tenaga dosen luar biasa sekaligus menjadi tenaga peneliti di Unhas pada Jurusan Antropologi hingga tahun 2004.

Setelah tak lagi menjadi peneliti, dia kembali ke Maroanging bergiat memberdayakan masyarakat dengan membentuk kelompok ternak ayam, dan koperasi. Awalnya kelompok ternak yang dibentuk itu hanya beranggotakan 20 orang. Saat mulai mengembangkan ternak ayam lewat pola berkelompok pada tahun 2001, populasi ternak ayam petelur di Enrekang masih sekitar 20 ribu ekor dan sekarang telah mencapai hingga 700 ribu ekor. Bahkan ada beberapa kelompok yang mulai mandiri namun tetap membina kelompok-kelompok peternak yang belum sukses.

Sukses memprakarsai pembentukan kelompok ternak petelur di Enrekang, Sainal pada 1998 tertarik terjun (Anggota DPRD Kab. Enrekang dan Ketua DPC Partai Penegak Demokrasi Indonesia Kab. Enrekang).

Tidak kalah pentingnya, akses transportasi, dan infrastruktur yang dapat menghubungkan satu wilayah ke wilayah lainnya. Lantas mengapa di era otonomi kini, potensi sumber daya alam tidak termanfaatkan dengan maksimal? Menurut Sainal, karena selama ini sangat ergantung pada besaran nilai APBN yang mengucur ke daerah. Jika APBN-nya kurang maka pengelolaan sumber daya alam juga kurang maksimal. Seyogyanya ke depan, pemerintah khususnya di Kabupaten Enrekang tidak hanya menggantungkan harapan kepada APBN tetapi berupaya keras menumbuhkan mesin-mesin uang dengan terus memberdayakan berbagai potensi yang ada di masyarakat. Misalnya dengan menciptakan home industri, membangun kelompok-kelompok produksi di tingkat petani, tingkat pemuda, kelembagaan, dan menghidupkan lagi perusda yang ada. Kalau pemerintah bisa menciptakan mesin-mesin uang di masyarakat, maka ketergantungan pada APBN tidak lagi berlebihan, seperti selama ini. [] ke dunia politik dan bahkan memimpin Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI). Lewat partai ini pula, dia masuk parlemen pada pemilu 2009 lalu.

Sebelumnya, dia sempat ikut pencalonan Kepala Daerah Kabupaten Enrekang, namun tidak lolos lantaran tidak ada partai yang bersedia mengusungnya. Keinginan Sainal, untuk bertarung pada pemilihan kepala daerah di Enrekang dua tahun ke depan sejatinya bukan untuk memburu kekuasaan, tetapi semata ingin melakukan perubahan secara menyeluruh. Kenapa harus menjadi bupati? Karena menurutnya, bupati memiliki kekuatan melakukan perubahan terencana, karena memiliki power serta didukung oleh finansial yang cukup. Jadi baginya, jabatan bupati bukanlah tujuan tetapi hanya sasaran antara untuk melakukan perubahan di Enrekang.

Ada optimisme Sainal, pembangunan masyarakat Enrekang ke depan akan jauh lebih sejahtera dibanding sekarang, bila pemerintahannya kuat. Untuk menciptakan sebuah pemerintahan yang kuat, harus ada transparansi, pemerintahan yang adil serta bijaksana. Mengapa selama ini pemerintahan tidak kuat, karena sistem pemerintahan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Menurut Sainal, fungsi hakiki pemerintahan yakni menjadi fasilitator, dan mediator menuju masyarakat yang lebih sejahtera. Kalalu fungsi ini tidak berjalan baik, maka persoalan yang muncul adalah tingginya tingkat kemiskinan masyarakat, yang umumnya petani, buruh, dan pekerja di berbagai sektor informal.

Faktor penyebab kemiskinan kelompok masyarakat adalah lemahnya akses terhadap sumber daya alam dan sumber-sumber ekonomi lainnya. Di bidang pertanian misalnya, menurut Sainal, banyak petani yang tidak lagi memiliki lahan karena telah banyak dikonversi menjadi kawasan perumahan, pabrik, dan berbagai peruntukan lainnya. Untuk mengatasi hal ini ke depan perlu dibentuk Perda Tata Ruang dan Wilayah. Selain itu, untuk mengatasi persoalan di sektor pertanian ini pemerintah harus bekerja keras memacu peningkatan produktivitas dan kualitas hasil pertanian.

Tentu saja dengan melibatkan tenaga-tenaga penyuluh pertanian untuk melatih para petani. Pemerintah juga harus memberikan akses permodalan kepada petani agar mereka dapat meningkatkan hasil produksinya.


BIODATA

Nama : Drs. H. Muhammad Sainal, MA

LAHIR : ENREKANG, 15 JUNI 1966
PEKERJAAN : ANGGOTA DPRD KAB. ENREKANG
PENDIDIKAN TERAKHIR : PASCA SARJANA UI JAKARTA
 
( Sumber Refrensi : http://enrekangnews.com/tokoh/11-drs-saenal-ingin-perubahan-bukan-kekuasaan  )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s